Jakarta -
Sebagian besar masyarakat yang melakukan mudik pada Lebaran 2026 mengaku puas
terhadap manajemen mudik yang diselenggarakan pemerintah. Lembaga Survei
KedaiKOPI mencatat, sebanyak 88,8 persen responden merasa puas, dengan nilai
rata-rata kepuasan sebesar 7,18 dari skala 1 sampai 10.
Hasil itu
disampaikan oleh Head of Research KedaiKOPI, Ashma Nur Afifah, dalam pemaparan
survei tahunan KedaiKOPI terkait pelaksanaan mudik Lebaran, Senin (6/4/2026).
Survei dilakukan pada 23–30 Maret 2026 terhadap 1.101 responden yang memenuhi
kriteria sebagai pemudik Lebaran 2026.
“Dari skala 1
sampai 10, kita mendapatkan nilai sebesar 7,18. Maka dari skala tersebut kita
dapat kategorikan bahwa responden yang melakukan mudik cukup puas dengan
layanan atau manajemen mudik yang telah dilakukan oleh pemerintah,” kata Ashma.
Ashma
mengatakan, kepuasan tersebut diukur dari dua aspek besar, yaitu layanan armada
transportasi umum, serta infrastruktur dan kebijakan manajemen mudik secara
keseluruhan.
Pada aspek
layanan armada, kepuasan tertinggi secara konsisten tercatat pada kenyamanan
armada yang berlaku untuk bus, kereta api, maupun travel atau shuttle resmi.
Namun, masing-masing moda juga mencatatkan titik lemah tersendiri.
Untuk pengguna
bus, aspek yang mendapat penilaian paling rendah adalah kenyamanan terminal
bus. Bagi penumpang kereta api, keluhan terbesar datang dari ketersediaan kuota
tiket, di mana angkanya turun signifikan dibanding tahun lalu, dari 84,8 persen
menjadi 76,1 persen atau berkurang 8,7 persen. Sementara itu, pengguna travel
resmi mengeluhkan kenyamanan saat menunggu di pool atau titik penjemputan.
Di moda kapal
laut, kepuasan tertinggi dirasakan saat proses antrean masuk ke kapal,
sedangkan aspek terendah adalah keteraturan saat mengantri membeli tiket di
pelabuhan. Adapun untuk pengguna pesawat, kenyamanan di dalam kabin mendapat
apresiasi tertinggi, sementara ketersediaan kuota tiket menjadi aspek terendah,
meski angkanya justru naik dari 76,2 persen tahun lalu menjadi 80 persen tahun
ini.
“Kesulitan yang
dirasakan dalam mengakses tiket kereta api lebih banyak dirasakan oleh
responden tahun ini dibandingkan tahun lalu. Turun tertingginya ada pada
ketersediaan kuota tiket kereta api, yang tahun lalu 84,8 persen, sekarang
hanya 76,1 persen,” kata Ashma.
Dari sisi
infrastruktur jalan, kepuasan terhadap jalan tol secara konsisten lebih tinggi
dibanding jalan non-tol. Pada pengguna jalan tol, kepuasan di hampir semua
aspek berkisar di angka 91–92 persen. Aspek yang paling diapresiasi adalah
kondisi saat memasuki jalan tol (92,7 persen) dan keamanan serta penerangan
jalan tol (92,2 persen). Khusus untuk penerangan jalan tol, angka ini melonjak
tajam dibanding tahun lalu yang hanya 77,2 persen, atau naik 15 persen.
Sebaliknya,
untuk jalan non-tol, ketersediaan rambu lalu lintas yang dinilai cukup dan
jelas mendapat apresiasi tertinggi di angka 85,8 persen. Aspek yang paling
dikeluhkan adalah kemulusan jalan di dalam kabupaten atau kota tujuan (73,1
persen), turun dari 82,9 persen pada 2025.
“Ada peningkatan
di aspek keamanan dan penerangan jalan tol. Yang tahun lalu puas hanya sebesar
77,2 persen, tahun ini naik menjadi 92,2 persen. Jadi memang ada peningkatan
penerangan di jalan tol tahun ini dan itu diapresiasi dalam menjaga keamanan
mudik 2026,” kata Ashma.
Ashma lalu
menjelaskan, kebijakan rekayasa lalu lintas yang diterapkan pemerintah, seperti
sistem satu arah (one way) dan contraflow, mendapat sambutan positif dari 80,8
persen responden. Sementara itu, 82 persen pemudik menyatakan puas dengan
layanan posko kesehatan yang tersedia selama perjalanan mudik.
“Kepuasan
terhadap kebijakan rekayasa lalu lintas sebelumnya mencapai 91,2 persen dan
posko kesehatan 92,9 persen di tahun 2025. Pola yang sama kami temukan di tahun
ini, mayoritas masih puas, namun persentasenya turun dibanding tahun lalu,”
ujar Ashma.
Di rest area,
ketersediaan bahan bakar menjadi aspek yang paling diapresiasi, dengan 87,1
persen responden merasa puas. Namun, kebersihan toilet menjadi catatan
tersendiri, hanya 77,8 persen yang merasa puas, turun dari 86,2 persen pada
tahun sebelumnya.
“Ini mungkin
juga dikarenakan memang pengguna toilet di saat periode mudik lebih banyak,
sehingga kebersihan toiletnya cukup agak sulit untuk dijaga secara konsisten,”
ujar Ashma.
Untuk layanan
darurat, 77,8 persen responden menyatakan puas, turun 12,5 persen dari 2025.
Sementara kepatuhan pengendara lain mendapat angka kepuasan paling rendah di
antara semua aspek yang diukur, yakni 71,9 persen, turun 10,1 persen dibanding
tahun lalu.
Salah satu
kebijakan yang paling diapresiasi pemudik adalah pemisahan akses pelabuhan
berdasarkan jenis kendaraan, yang berlaku di lintasan Merak–Bakauheni dan
Ketapang–Gilimanuk mulai 13–29 Maret 2026. Sebanyak 91,5 persen responden
menyatakan setuju dengan kebijakan tersebut, dengan nilai rata-rata dukungan
7,66 dari skala 10.
Adapun survei
KedaiKOPI juga mengukur kinerja kepolisian dari dua sisi, yaitu polisi lalu
lintas (Polantas) yang bertugas di jalan, serta polisi yang menjaga keamanan
lingkungan rumah yang ditinggal pemudik.
Dari sisi
Polantas, Ashma menjelaskan 80,6 persen responden merasa puas terhadap kinerja
Polantas dalam menjaga kelancaran arus mudik, dan 81,7 persen puas terhadap
kinerjanya dalam menjaga keamanan arus mudik. Meski masih di atas 80 persen,
Ashma mengatakan kedua angka ini turun dibanding 2025, di mana masing-masing
turun 5,7 persen dan 6,2 persen.
Dari sisi
keamanan rumah, 86,7 persen responden percaya bahwa aparat lingkungan seperti
RT/RW atau satpam mampu menjaga rumah mereka selama ditinggal mudik, dengan
nilai rata-rata kepercayaan 7,78. Adapun kepercayaan terhadap kepolisian dalam
menjaga keamanan lingkungan permukiman tercatat pada angka 79,4 persen dengan
rata-rata 7,20.
“Jika kita fokus pada
seluruh aspek yang ditanyakan terkait kinerja polisi, yaitu menjaga kelancaran
lalu lintas, menjaga keamanan arus mudik, hingga menjaga keamanan di lingkungan
rumah, maka nilai rata-rata kepuasannya adalah 7,81. Jumlah responden yang
merasa puas terhadap kinerja Polri secara keseluruhan sebanyak 84,1 persen,”
pungkas Ashma.


