Polres Sanggau - Upaya antisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla)
terus digencarkan oleh aparat gabungan di wilayah perbatasan. Pada Rabu siang
(30/7), tim gabungan yang terdiri dari personel Polsek Entikong, Koramil
Entikong, dan pihak Kecamatan Entikong melakukan verifikasi langsung terhadap
14 titik hotspot yang terpantau melalui aplikasi Sipongi dan GAC.
Lokasi yang menjadi fokus berada di tiga desa, yakni Desa Suruh
Tembawang, Desa Nekan, dan Desa Pala Pasang, Kecamatan Entikong, Kabupaten
Sanggau. Verifikasi ini menjadi langkah cepat untuk memastikan kondisi lapangan
serta potensi bahaya lanjutan akibat pembukaan lahan dengan cara membakar.
Dari hasil pengecekan, tim menemukan bahwa seluruh titik hotspot
tersebut merupakan lahan ladang dengan luas bervariasi, antara 0,5 hingga 5
hektare, yang digunakan untuk penanaman padi ladang oleh warga.
Seluruh lokasi tersebut dikonfirmasi telah dilakukan pembakaran secara
terbatas, gotong royong, dan menggunakan alat tradisional sesuai kearifan
lokal, serta telah dikoordinasikan terlebih dahulu dengan aparat desa dan tokoh
adat setempat.
“Seluruh lokasi telah dicek dan dipastikan bahwa api sudah dalam kondisi
padam. Tim juga melakukan pendataan dan menggali informasi langsung dari warga
sekitar untuk memverifikasi titik-titik yang terpantau,” ujar Kapolsek Entikong
AKP Donny Sembiring, SH.
Menurut Kapolsek Entikong, langkah cepat ini dilakukan untuk mencegah
perluasan titik api serta memastikan tidak adanya pelanggaran terhadap regulasi
karhutla.
“Kami tidak hanya memastikan lokasi aman, tetapi juga memberikan imbauan
kepada masyarakat agar tetap bijak dalam mengelola lahan, khususnya saat musim
kemarau,” tambahnya.
Dalam kegiatan ini, sejumlah personel turut dikerahkan, antara lain
Bhabinkamtibmas dari masing-masing desa terkait, Babinsa Koramil Entikong,
serta Kasi Trantib Kecamatan Entikong. Seluruh tim bekerja sama melakukan
pengecekan lokasi secara langsung dengan mengedepankan pendekatan humanis
terhadap warga.
Pihak kecamatan juga turut memfasilitasi koordinasi dengan perangkat
desa dan tokoh adat guna membangun sinergi yang kuat dalam penanganan karhutla
berbasis komunitas. Ini menjadi bukti nyata bahwa pencegahan karhutla bukan
hanya tugas aparat, tetapi merupakan tanggung jawab bersama.
Berdasarkan pemantauan aplikasi Sipongi dan GAC, seluruh titik hotspot
yang muncul dikategorikan dalam tingkat risiko menengah. Namun, dengan
keterlibatan semua unsur sejak awal, potensi risiko tersebut dapat diminimalkan
secara signifikan.
Kapolsek Entikong menegaskan, ke depan pihaknya akan terus
mengintensifkan patroli serta verifikasi titik hotspot bersama TNI dan instansi
terkait lainnya.
“Kami siap bergerak cepat kapan pun diperlukan demi menjaga lingkungan
dan mencegah bencana karhutla di wilayah perbatasan,” pungkasnya.
Situasi selama kegiatan
berlangsung dalam keadaan aman dan kondusif. Kegiatan ini diharapkan menjadi
contoh penanganan cepat karhutla berbasis sinergi lintas sektor dan partisipasi
aktif masyarakat. (Dny Ard / Hms Res Sgu)